Satu buah keistimewaan kembali terjadi dalam siklus tahunan dalam hidup. Perjumpaan dengannya merubah segi – segi gerak hidup keseharian, banyak hal yang tadinya memiliki bobot boleh dilakukan, maka pada saat berjumpa menjadi tidak boleh dilakukan dengan catatan tertentu.
Perjumpaan menjadikan waktu mengalir menempa pribadi – pribadi agar memiliki kemampuan merasakan banyak hal yang terjadi di sekitarnya. Merasakan bagaimana dahsyatnya sebuah kelaparan dan kehausan yang jika dicermati merupakan upaya mengistirahatkan organ pencernaan setelah selama sebelas bulan terus saja bekerja. Merasakan kerasnya bertarung dengan indera batin setelah untuk beberapa lama dipenuhi ribuan daftar ambisi menjulang tinggi yang bersamanya nafsu serta kebodohan pikiran ikut larut mewarnai angan – angan. Merasakan nikmatnya mendapatkan kesempatan untuk bermesraan dengan keadaan serba dibatasi. Tiap perkataan, pikiran, gerakan dan lainnya diberi garis batas agar tidak menjadi kesia-siaan belaka melainkan menuju satu titik, yaitu perenungan makhluk kepada karunia Sang Maha Agung, penghambaan total dan pelepasan keangkuhan kerdil yang terkadang tanpa disadari mengikuti kemana langkah kaki berjalan menempuh labirin kehidupan.
Perjumpaan mengajak tiap pribadi untuk mengalami semacam pusat pusaran dalam diri berupa benteng pengendalian sehingga mampu meletakkan nafsu untuk memiliki lebih menjadi kesyukuran akan apa yang telah diberikan Sang Maha Pengasih. Kesadaran yang diperlukan untuk kembali mengarungi hidup di bawah naungan cahaya Sang Maha Cahaya. Kemudian dalam relung hati tiap pribadi akan dipenuhi kebahagian, yang sebagian diberikan langsung di dunia dan sebagian lagi diberikan saat berada pada taman – taman milik Sang Maha Penyayang sebagaimana yang dijanjikan kelak.
Pada waktu yang semakin merambat membawa perjumpaan ke arah perpisahan, diharapkan tiap pribadi akan menjelma menjadi selayaknya bayi yang terlahir kembali ke dunia. Begitu bersih, begitu bersinar, begitu indah. Sembari memanjatkan sembah doa kepada Sang Maha Agung agar masih diijinkan mengalami perjumpaan lagi dengan tamu istimewa bernama Ramadhan.
Tanggal 17 Agustus ketika orang memperingati hari lahirnya Indonesia sebagai negara yang merdeka, ingatan saya menerawang jauh menggapai masa di waktu saya duduk di sekolah dasar (SD). Saya begitu kagum saat upacara penaikan bendera dilakukan setiap hari Senin, dengan diiringi suara paduan suara menyanyikan lagu Indonesia Raya, bendera itu dinaikan pelan-pelan oleh tiga petugas pengibar bendera. Maka dalam benak saya bergemuruh bayangan dahsyat tentang ke-Indonesia-an, bahwa Merah Putih itu merupakan Indonesia yang besar adil dan sejahtera dengan masyarakatnya yang makmur. Tergambar dalam syair lagu Indonesia Raya, begitu indah, dan menentramkan membuat bergetar takjub sekaligus terharu. Kemudian terbayang juga bahwa Merah Putih itu merupakan seorang Ibu Pertiwi yang sekali lagi anggun tempat dimana anak-anaknya menikmati hangatnya sebuah keluarga besar. Sebuah rumah yang memiliki kekayaan alam yang luar biasa, pulaunya banyak, dan lautnya luas. Sebuah lukisan menyejukkan hati dan jiwa Hidup begitu indah jauh dari kesan kekurangan. Terkenang juga mengenai heroisme para pejuang yang bertaruh nyawa untuk satu kata “Kemerdekaan”, yang berarti bebas dari penindasan kaum penjajah, bebas menentukan nasib sendiri.
Era itu merupakan sebuah fase yang di kemudian hari saya tersadar tidak sepenuhnya benar tapi juga tidak seluruhnya salah. Ketika saya tengok gugusan pulau yang menjadi bagian republik ini, maka nyatalah bayangan luasnya wilayah negri ini, ketika saya teringat sebuah bait lagu “nenek moyangku seorang pelaut” maka nyatalah bayangan saya tentang laut Indonesia dan sebutan negri bahari, ketika saya ingat sejarah bahwa dulu Indonesia merupakan macan Asia, maka nyatalah bayangan saya akan kebesaran bangsa ini. Intinya banyak sekali rasa bangga yang tumbuh dalam dada akan bangsa ini, akan tanah air ini, kecintaan seorang anak negri terhadap tanah kelahirannya.
Tapi seiring berjalannya waktu, lambat laun gambaran itu mulai hilang, meski tidak musnah sama sekali. Saya berpikir mungkinkah kemampuan saya untuk membayangkan sudah agak berkurang. Mungkinkah bahwa saya dulu terlalu asyik dengan dunia imajinasi saya dan terlempar jauh dari kenyataan. Atau benturan dengan kenyataan membuat saya tidak lagi bisa bermain dengan imajinasi Merah Putih ketika SD dulu. Kenyataan bahwa sebenarnya masih banyak kekurangan di sana – sini. Ketimpangan yang memunculkan jurang pemisah antar anggota keluarga bangsa, begitu rumit untuk dirunut apa penyebab kusutnya keadan ini. Faktor dari luarkah atau dari dalamkah semua itu bermula. Carut marut wajah bangsa ini setelah 64 tahun merdeka memunculkan letupan kecil “benarkah kemerdekaan itu telah berada di sini, di tanah bangsa ini”. Jangan – jangan kata Merdeka! yang dulu diperjuangkan para pahlawan sekarang tergeser atau sengaja digeser maknanya menjadi bebas memanfaatkan yang ada untuk kepentingan sempit, tidak lagi sebagai sebuah keluarga besar.
Sekedar menengok ke belakang, bangsa ini pernah mengalami masa pendudukan kaum asing dalam penjajahan dengan kurun waktu yang tidak bisa dibilang sebentar, sejarah mencatat sekitar 3,5 abad dalam masa pendudukan Belanda, di susul Jepang. Maka perlukah kurun waktu yang sama (3.5 abad) untuk mengejar ketertinggalan dengan bangsa / negara lain, katakanlah tetangga dekat di seberang sana?
Saya teringat seorang pelukis bernama Dede Eri Supriya yang pernah membuat lukisan berjudul “Yang Menindas dan Yang Tertindas”. Pada lukisannya tersebut tertuang sebuah suasana orang yang menggencet wajah orang lain dibawahnya, begitu bertumpuknya figur orang yang menggencet dan tergencet itu sehingga ekspresi wajah terlihat sangat tersiksa, tapi anehnya baik figur yang menggencet dan tergencet itu adalah figur yang sama. Ini menjadi semacam refleksi bagi saya akan keadaan Indonesia saat ini, benarkah sekarang terdapat dua jenis Indonesia, yaitu Indonesia yang menindas dan Indonesia yang tertindas.
Negara dan bangsa menjadi sesuatu yang perlu direnungkan kembali maknanya. Mungkin bukan sekedar sekumpulan orang, mungkin juga bukan sekedar institusi birokrasi, mungkn tidak juga sekadar segugusan pulau, mungkin bukan lagi sekedar simbol – simbol kenegaraan semata. Mungkin seharusnya seperti bayangan saya waktu SD dulu, imaji merah putihku. Agar almarhum W.R Supratman dari “sana” melihat syair yang ia gubah menjadi kenyataan. Selamat ulang tahun kemerdekaan Indonesiaku yang ke 64 tahun.